|
03 Oct 2009 Abrosi dalam Bingkai Jurnalisme Legal-Formal Bertahun sudah saya membaca Tempo.
Bahkan, ketika saya mengikuti tes calon reporter majalah kampus di
Yogyakarta, dan ditanya majalah apa yang paling sering dibaca, saya
menjawab Tempo. Tetapi saya benar-benar merasakan bagaimana jargon
Tempo, 'enak dibaca', baru kali ini, saat membaca tulisan rubrik
investigasi (Edisi 11-17 Mei 2009). Sebuah laporan mengenai aborsi,
prosesi yang begitu sulit untuk diambil keputusannya, tetapi begitu
enak diceritakan. Begitu nyaman. Bisa dibaca sambil bergelak tawa, di
sela-sela minum kopi dan disambi menonton televisi.
Besutan bahasa yang memang benar-benar
enak itu, telah mampu mengaburkan bagaimana keputusan meski diambil
untuk menghadapi persoalan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
Celakanya, seluruh besutan itu, dibingkai dengan pelabelan serius,
'bisnis'. Menjadi tidak mengherankan, hasil wawancara dengan
perempuan yang menggunakan jasa layanan aborsi pun, keseluruhannya
tetap dalam bingkai proses dagang.
Saya tidak menemukan barang sebarispun
kalimat yang mencoba menggambarkan bagaimana sisi psikologis
perempuan yang akhirnya memilih mengakhiri KTD yang dialaminya.
Investigasi ini benar-benar sepi dari kesaksian psikologis. Kesunyian
ini, jelas berakar dari nalar yang membingkai gagasan penulisannya.
Lalu, jargon Tempo itu tidak cukup
diakhiri dengan lanjutannya saja, 'dan perlu'. Melainkan, masih harus
ditambahkan dengan 'tidak' di depan kata 'perlu'. Soalnya, selain
cara pandang 'dagang' yang memandu keseluruhan laporan investigasi
ini, mengutip perspektif jurnalisme yang dikembangkan Ashadi Siregar,
sangat berpatokan pada sisi legal-formal.
Dalam konteks seperti inilah sisi batin
perempuan menjadi terabaikan atau bahkan memang tidak pernah
terpikirkan sama sekali. Cara pandang legal-formal, tidak
memungkinkan seorang jurnalis mengembangkan cakrawala pemikirannya
untuk menggali soal-soal yang berkaitan dengan sisi kemanusiaan,
tentang hidup manusia sehari-hari.
Saya memikirkan, akan benar-benar
diperlukan dan tidak sekedar enak dibaca, manakala laporan ini
memasuki wilayah kemanusiaan. Ranah yang akan mampu membuka ruang
lebih lebar dari persoalan perempuan yang mengalami KTD dan hak-hak
yang melingkupinya. Meletakkan KTD dalam spektrum sistem sosial yang
lebih luas, dan karenanya akan menjangkau soal hak kesehatan seksual
dan reproduksi bagi perempuan.
Publik kemudian akan mendapatkan
sesuatu yang memang benar-benar menjadi wacana alternatif. Tidak
hanya sekedar mendiskusikan persoalan legal dan tidak legal, berapa
banyak pundi-pundi yang bisa ditangguk para penyedia jasa tindakan
aborsi, bagaimana gurita percaloan sebagai rantai pasar. Pendek kata,
tidak terjebak dalam nalar 'ekonomi' dalam memandang fakta sosial
'aborsi' dan juga seperti apa yang telah dilakukan banyak media.
Begitulah, selain Tempo akan menjadi
enak dibaca, tetapi juga memang diperlukan dalam proses pendidikan
kritis masyarakat. Perannya menjadi lebih, tidak sekedar
melanggengkan apa yang sudah menjadi pemahaman masyarakat. Lebih
celaka lagi, hanya sekedar turut meramaikan bursa informasi 'aborsi',
tetapi tanpa memberikan wacana yang berbeda dari berbagai informasi
yang telah disajikan oleh media lainnya.
Jika tidak, kelak mungkin saja publik
hanya menerima Tempo sebagai 'enak dibaca' dan 'tidak' perlu.***
[Administrator Web]
|