Welcome

4 Teori Pendekatan Efektif Pendidikan HKSR Terhadap Kaum Muda

KAUM MUDA

Empat pendekatan akan diutamakan: [1] perkembangan remaja, [2] pendekatan berdasarkan hak-hak, [3] perubahan perilaku dan [4] promosi kesehatan. Secara teori, kombinasi dari pendekatan ini sangat efektif seperti yang telah digunakan sebelumnya dalam pengembangan dan pelaksanaan DAKU!

 

Penting dicatat, bahwa hanya perkembangan sistematis yang terencana (dan pelaksanaan) dari intervensi dapat efektif. Untuk bekerja dengan cara yang sistematis dan terencana, teori Perubahan Perilaku dapat digunakan sebagai teori sentral.

 

Tujuan utama dari intervensi pendidikan kesehatan adalah untuk mendukung remajadalam membuat keputusan sendiri mengenai kehidupan seksualnya. Pengambilan keputusan haruslah berdasarkan informasi lengkap, yang sesuai dengan usianya dan memenuhi kebutuhan remaja (perkembangan remaja). Untuk menjamin bahwa keputusan itu terinternalisasi dalam jangka panjang, keputusan haruslah diambil oleh remajasecara sukarela dan tidak dipaksakan oleh orang dewasa. Pengambilan keputusan hanya akan efektif jika dapat diaplikasikan dalam lingkungan yang mendukung keputusan tersebut.

 

 

Untuk mengembangkan pendidikan seksualitas, 4 pendekatan dapat dikombinasikan:

  1. Untuk memperkuat pengambilan keputusan sendiri, Pendekatan Perkembangan digunakan untuk membangun konsep diri dan memahami perkembangan seksual sendiri, termasuk nilai diri, norma dan otonomi. Pendekatan ini sangat berarti untuk meningkatkan kepercayaan diri.
  2. Pendekatan Berbasiskan Hak artinya memberdayakan remajadalam mengambil keputusan sendiri. Jika remajasadar hak seksual dan reproduksinya, mereka dapat dibantu untuk mendapatkan hak ini dalam kehidupan dan lingkungan mereka dan untuk mempertahankannya. Hak utama dalam penentuan diri membuat remajamengambil keputusan sendiri, tetapi juga meyakinkan mereka untuk bertanggung jawab dan menghargai hak dan keputusan orang lain.
  3. Pendekatan Perubahan Perilaku merupakan cara yang sistematis dan berdasarkan bukti nyata dalam menentukan perilaku mana dan penyebab perilaku itu dapat membantu mereka menentukan keputusan sendiri. Pendekatan ini merupakan dasar dari proses belajar sistematis dalam mengambil keputusan.
  4. Pendekatan Promosi Kesehatan digunakan untuk menghubungkan pendidikan seksualitas dan pengambilan keputusan dengan menciptakan dan memudahkan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang di mana keputusan remajadapat diaplikasikan dan dipromosikan. Faktor-faktor lingkungan utama adalah norma sosial yang mendukung, akses ke konseling, pelayanan yang memenuhi kebutuhan kesehatan seksual serta kebijakan yang mendukung dari organisasi (misalnya sekolah), masyarakat dan negara.

 

Kombinasi efektif adalah dengan menggabungkan keempat pendekatan ini dalam mengembangkan dan melaksanakan pendidikan seksualitas. Dengan demikian, prinsip bekerja yang efektif dengan remajadapat dipenuhi, yaitu:

  • pendidikan sekualitas yang lengkap/komprehensif, di mana kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta HIV/AIDS dikaitkan satu sama lain dan terpadu dalam pendekatan kesehatan seksual yang lebih luas.
  • pendidikan seksualitas tidak semata-mata berdasarkan masalah, tetapi termasuk masalah kesehatan seksual dan reproduksi dalam konteks perkembangan remaja yang lebih luas.
  • remajadianggap sebagai makhluk seksual, pengambil keputusan dan pelaku sosial yang diberdayakan untuk mengambil keputusan sendiri dan memperjuangkan hak mereka.
  • seksualitas harus menggunakan pendekatan yang positif dan menjadi masalah yang dibicarakan dengan lebih mudah.
  • dengan metode interaktif, remaja mendapatkan masukan dan proses belajar sendiri, di mana pendekatan yang berbasiskan gender menjamin bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan mendapatkan perhatian yang terpadu selama pendidikan seksualitas berlangsung.

 

Pendekatan Perkembangan didasarkan pada wilayah dan masalah yang berbeda, di mana remajaakan tumbuh dan mengembangkan diri menjadi orang dewasa dan warga negara yang mempunyai otonomi dan bertanggung jawab.

  1. Mengembangkan kompetensi artinya membantu remajauntuk mengkombinasikan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka dengan karakteristik pribadi dalam mendapatkan kebutuhannya, yang dibutuhkan dalam konteks sosial dan budaya.
  2. Mengembangkan otonomi artinya remaja mulai mengembangkan berpikir konkret dan belajar untuk berbeda satu sama lain dan bertanggung jawab; proses ini merupakan bagian dari berkembang menuju penentuan diri sendiri dan belajar memutuskan serta melakukan kegiatan tanpa menanyakan ijin dari badan yang mengontrol, misalnya orang tua.
  3. Mengembangkan nilai-nilai artinya mendefinisikan keyakinan dan standar pribadi sebagai prinsip untuk menentukan apa itu hak, baik dan benar akan membantu menyusun tujuan umum seseorang untuk mengambil keputusan dalam hidupnya, termasuk seksualitas
  4. Identitas artinya membangun rasa yang kuat mengenai diri sendiri, kumpulan dari karakteristik yang pasti dan dikenal sebagai ‘saya’, mewakili keunikan pribadi dan kepribadian tertentu serta dapat dibentuk dengan menggali, mengalami dan mencoba norma, nilai dan batasan pribadi.

Seksualitas dan saya artinya remaja belajar untuk menjadikan seksualitasnya seimbang dengan identitas mereka, misalnya bagaimana untuk mengatasi kesenangan seksual, ketertarikan, keintiman, perasaan dan pengalaman erotis sebagaimana halnya nilai-nilai pribadi dan batasan yang mereka miliki dalam seksualitasnya, bagaimana untuk interaksi dengan teman sebaya, sahabat, pasangan dan peran gender serta standar sosial mana yang bermanfaat bagi mereka dalam kaitannya dengan sikap, ekspresi seksual dan perilaku seksual. Mengembangkan persahabatan: karena remaja mulai mengembangkan otonomi, kurang bergantung pada keluarganya dan lebih dekat pada teman sebayanya, mereka butuh persahabatan sebagai kerangka rujukan untuk mengembangkan nilai sendiri dan gaya hidup sendiri dan hubungan yang aman, di mana ide, pengalaman dan masalah dapat dibagi dan didiskusikan.

  1. Cinta dan hubungan: remaja mungkin mengalami hubungan cinta pertama mereka, di mana mereka juga menjalin persahabatan dengan lawan jenis tanpa konotasi cinta atau seks; mereka juga harus memutuskan bagaimana mengatasi kedekatan yang kuat terhadap orang lain termasuk obsesi, apa artinya untuk hubungan ini, bagaimana untuk mengatasi seksualitas dan bagaimana untuk mengatasi harapan dari lingkungan mengenai hubungan cinta, tekanan, paksaan dan hadiah untuk membayar hubungan seks.
  2. Kerja dan tidak kerja: remaja harus memutuskan karir profesional mereka dan apa artinya bagi sekolah bertahun-tahun.
  3. Terlibat dalam masyarakat: remaja butuh menciptakan posisi aman dalam masyarakat termasuk keputusan bagaimana untuk menghadapi harapan masyarakat, standar sosial dan praktik peran gender, sikap dan perilaku yang berkaitan dengan seksualitas, cinta, hubungan dan pernikahan.
  4. Waktu luang: remaja butuh mengambil keputusan sendiri mengenai bagaimana menikmati waktu luang mereka yang memperkuat kualitas hidup mereka, termasuk pencegahan masalah seksual, mengatasi tekanan teman sebaya dan pengaruh media.

 

Dengan pendekatan berdasarkan hak, terutama hasil dari Konvensi Hak Anak (KHA), remajadisiapkan untuk menjadi pengambil keputusan dan pelaku utama dari hak mereka, artinya mereka harus digarap serius dalam mendiskusikan seksualitas dan harus diberdayakan untuk mengambil keputusannya sendiri dan mempertahankannya; pendekatan ini melihat remajabukan hanya sumber masalah tetapi bagian dari penyelesaian masalah dengan melibatkan mereka, kembangkan/investasikan aset yang mereka miliki, faktor pelindung, kemampuan, kekuatan dan kreativitas mereka dengan memperluas akses mereka terhadap kesempatan dan pelayanan dalam lingkungan yang mendukung, sehingga kesenjangan generasi dan hambatan budaya dapat diatasi lebih mudah.

 

Bekerja berdasarkan bukti dan sistematis sesuai teori Perubahan Perilaku, penentu perilaku dapat ditentukan yang akan membantu remajamengambil keputusannya sendiri berdasarkan informasi yang lengkap dan sesuai usia, sehingga keputusan ini tidak diambil di bawah tekanan orang dewasa namun sukarela oleh remajauntuk menjamin bahwa ini akan diinternalisasi dan bertahan lama.

 

Pengambilan keputusan hanya akan efektif apabila diambil dalam lingkungan yang mendukung dan memberikan akses ke konseling, pelayanan kesehatan yang mempunyai norma sosial yang dapat diterima mengenai seksualitas remaja dan menyediakan kebijakan mendukung sehingga keputusan ini dapat diambil, termasuk penggunaan kondom. Kombinasi dengan pendekatan berdasarkan hak butuh pilihan perilaku bagi kaum muda. Menjelaskan perilaku sehat seperti A(Abstinens/pantang seks), B(Be faithful/setia), jika tidak setia, lakukan tes IMS-HIV dan C(Gunakan kondom) serta D(Delay atau menunda hubungan seksual) lebih efektif dalam menjelaskan bagaimana jika urutan pilihan tersebut dihindari dan perilaku dijelaskan sebagai pilihan setara. Jika pesannya kondom harus digunakan jika orang tidak dapat pantang seks dan tidak setia, maka pesan pemakaian kondom dipresentasikan sebagai solusi setelah gagal dua kali berperilaku sehat

 

Inti utama dari pendekatan Perubahan Perilaku adalah bahwa pendekatan ini mengakui bahwa pemberian informasi ke masyarakat tidaklah cukup untuk mengubah perilaku, misalnya melalui belajar. Orang harus mempunyai pengetahuan sebagai prasyarat, tetapi harus mempunyai sikap positif terhadap perilaku yang baik untuk kesehatan (pantang seks, menunda hubungan seksual atau melakukan seks aman), dan bila menghadapi pengaruh sosial negatif, haruslah memiliki keterampilan asertif untuk tetap pada pendirian sendiri dan akhirnya harus memiliki keterampilan untuk menjalankan perilakunya (misalnya keterampilan mengatakan tidak, atau membeli, membawa, negosiasi dan menggunakan kondom) dalam praktiknya. Hanya dengan cara itulah orang dapat diharapkan berperilaku sehat, misalnya tergantung dari keputusan pribadi untuk pantang seks atau menunda hubungan seks atau menggunakan kondom ataupun melakukan hubungan seksual tanpa paksaan setelah aktif seksual.

 

Pendekatan Perubahan Perilaku dimulai dengan analisis situasi untuk mendefinisikan masalah kesehatan seksual dan reproduksi (misalnya kehamilan remaja, HIV, pelecehan seksual dan prevalensi dari masalah itu dari setiap kelompok sasaran misalnya anak perempuan, anak laki-laki, remaja pedesaan, dsb) serta penyebab dan pencegah dari setiap masalah kesehatan seksual dan reproduksi untuk setiap kelompok sasaran ditentukan per kelompok sasaran (misalnya pantang seks, menunda hubungan seksual, hubungan seksual yang aman dan tanpa paksaan).

 

Faktor lingkungan yang menghalangi perilaku sehat juga harus diperhitungkan misalnya kurangnya akses terhadap kondom, kontrasepsi, pelayanan kesehatan seksual, norma sosial di masyarakat yang tidak mengakui seksualitas kaum muda; tidak adanya kebijakan yang mendukung perilaku sehat dan mencegah dari masalah kesehatan serta pelecehan seksual dan masalah lingkungan lainnya seperti seorang remaja perempuan yang berjalan sendirian dari sekolah di pedalaman yang gelap gulita dsb.

 

Perilaku dan faktor penentunya merupakan tujuan utama dan khusus dari pendidikan seksualitas, di mana faktor lingkungan merupakan tujuan utama dan khusus dari intervensi yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung.

 

Faktor penentu dari setiap perilaku itu (misalnya A, B, C dan D) adalah pengetahuan sebagai prasyarat dan sikap, pengaruh sosial dan keterampilan terkait ke setiap perilaku; percaya diri merupakan keterampilan yang sangat penting, artinya harus percaya dengan keterampilan sendiri, sehingga keterampilan itu dapat diasah dengan baik dan mengaplikasikannya haruslah terinternalisasi sebagai hal nyata yang harus dilakukan.

Faktor penentu ini mewakili tujuan khusus dari pendidikan seksualitas, di mana remajadidukung untuk memiliki:

  1. Pengetahuan yang lengkap;
  2. Sikap yang tepat;
  3. Kesadaran dari pengaruh sosial yang mendukung dan mampu asertif dalam menghadapi pengaruh sosial negatif (misalnya tekanan teman sebaya, norma sosial negatif);
  4. Keterampilan untuk mengaplikasikan perilaku sehat dalam keseharian (misalnya keterampilan untuk menolak dan negosiasi serta membeli, membawa dan menggunakan kondom).

 

Pendidikan seksualitas dapat membantu remajaagar mempunyai keinginan sendiri untuk berperilaku sehat. Pada titik ini, hentikan dampak dari pendidikan seksualitas, yang harus dievaluasi untuk merealisasikan tujuan khusus ini.

 

Keinginan ini dapat dilakukan dalam praktik jika tidak ada hambatan seperti akses terhadap kondom dan jika keterampilan digunakan dengan tepat pada waktu yang tepat pula. Dengan pendidikan seksualitas, perubahan perilaku dapat diharapkan di mana aplikasi dari perilaku itu akan terjadi jauh sesudah pendidikan seksualitas.

 

Jika perilaku sebagai tujuan utama dari pendidikan seksualitas dan faktor penentunya sebagai tujuan khusus sudah jelas maka pelajaran ini dapat dibagi dengan stakeholder lain, remajadan guru untuk mendapatkan masukan mereka sejak awal pengembangan intervensi ini.

 

Kelompok kerja yang terdiri dari guru dan siswa dapat memberikan masukan penting dalam memilih metode pembelajaran paling tepat untuk mewujudkan tujuan khusus ini dan mengembangkan semua instruksi dan isinya, memilih bahasa yang akan digunakan, kata-kata, contoh, desain dsb. Dalam hal ini, intervensi akan sangat menarik dan meyakinkan untuk siswa dan mudah digunakan untuk guru. Versi kasar dari intervensi dapat diujicobakan oleh guru yang terlatih di beberapa kelas uji coba dan diadaptasi dengan komitmen dari Badan Pengurus pemilik sekolah menjadi versi yang lebih dapat diimplementasikan ke skala yang lebih luas. Selama pengembangan intervensi dan/atau selama uji coba dan pelaksanaan, intervensi dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung.

 

Hal itu menunjukkan bahwa faktor penentu perilaku merupakan tujuan khusus dari pendidikan seksualitas dan juga menekankan bahwa hak seksual dan reproduksi, termasuk kesetaraan gender, telah terintegrasi secara sistematis ke semua pelajaran. Akhirnya, terlihatlah bahwa metode pembelajaran dari setiap tujuan khusus harus dipilih, misalnya keterampilan atau sikap tidak dapat diajarkan tapi membutuhkan metode bermain peran, dan diskusi.

 

Melihat dari sudut pandang Perubahan Perilaku, pendidikan seksualitas lebih dari hanya memberikan informasi mengenai hal-hal biologis. Definisi dari Siecus memenuhi pendekatan ini yakni; “sikap dan keterampilan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan, di mana seksualitas dilihat dari konteks kualitas hidup yang lebih luas.”

 

Pendekatan Promosi Kesehatan, mewakili pengambilan keputusan oleh remajayang hanya efektif jika pengambilan keputusan dapat diambil di lingkungan yang mendukung keputusan itu dan berperilaku sehat. Hal itu dapat diatur dengan kebijakan sekolah, berdasarkan tiga pilar: pendidikan, pelayanan dan iklim sekolah serta organisasi yang mendukung.

 

Pendidikan dalam kelas dapat diperkuat dengan mengaitkannya dengan pendidikan luar kelas (poster, leaflet, video, teater, dsb). Untuk siswa yang mempunyai pertanyaan dan masalah pribadi, sekolah dapat menyediakan konseling di dalam dan luar sekolah dan rujukan ke pelayanan kesehatan dalam dan luar sekolah.

 

Pertanyaan dan kebutuhan pribadi dapat diatasi dengan menyediakan fasilitas, misalnya informasi kesehatan seksual di perpustakaan sekolah, akses terhadap kondom, pelayanan konseling, termasuk pihak yang dapat dipercaya untuk mengatasi masalah pelecehan seksual.

Kebijakan sekolah harus menyediakan lingkungan sekolah yang mendukung. Perjanjian resmi dan jenis pendidikan seksualitas haruslah dimasukkan dalam kebijakan sekolah, serta kaitannya antara pendidikan dengan konseling dan pelayanan kesehatan di dalam maupun luar sekolah, dan pelatihan pihak sekolah yang terlibat.

 

Administrasi sekolah haruslah membentuk staf sekolah dan iklim yang mendukung dengan secara rutin mengadakan pertemuan staf mengenai prinsip pendidikan seksualitas dan membuat perjanjian bagaimana iklim sekolah dapat ditingkatkan agar siswa merasa aman dan diperlakukan secara serius. Peraturan sekolah seperti cara memberikan pendidikan (tanpa diskriminasi gender, ras, agama, orientasi seksual, dsb), peraturan dan panduan mengenai kerahasiaan, panduan untuk menangani pelecehan seksual dsb.

 

Akhirnya sekolah dapat membantu orang tua dan masyarakat dalam membentuk sikap mendukung terhadap kesehatan seksual remajadan dapat melakukan advokasi kebijakan yang mendukung

 

Mengaitkan pendidikan seksualitas dengan lingkungan yang mendukung, mempermudah, aman dan penuh kasih sayang di luar sekolah serta butuh tindakan terhadap masyarakat. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan seksualitas dapat menjadi langkah pertama sekaligus sebagai pendidikan orangtua mengenai bagaimana mereka dapat mendukung anak-anak mereka dalam perkembangan seksual dan kehidupan seksual yang sehat kapanpun dimulai.

Sekolah juga dapat mengaitkannya dengan kegiatan masyarakat yang relevan termasuk meningkatkan akses ke konseling, pelayanan kesehatan seksual serta membangun norma sosial yang mendukung, yang mengakui seksualitas kaum muda. Pada akhirnya, sekolah dapat membantu melakukan advokasi dengan kebijakan yang mendukung kesehatan seksual, baik bagi remajayang belum maupun sudah aktif seksual.

 

Promosi kesehatan melihat kesehatan sebagai fungsi dari individu dan lingkungan di mana mereka hidup di dalamnya. Pendekatan ekologis seperti yang digambarkan dalam slide ini dari Promosi Kesehatan menunjukkan relasi antara pengambilan keputusan pribadi dan kebijakan nasional, dengan guru, administrasi sekolah, orang tua dan tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dan penentu kebijakan sebagai pengambil keputusan pada tingkat yang berbeda.

Dalam pendekatan ini, Perubahan Perilaku dapat digunakan untuk mendukung tokoh kunci di semua tingkatan agar membuat keputusan hidup sehat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memudahkan siswa sebagai sasaran utama dari tingkat yang paling rendah.

 

Jika siswa harus mengambil keputusan sendiri mengenai perilaku kesehatan seksualnya, maka perilaku guru harus sudah sedemikian rupa yang akan mempermudah intervensi pendidikan seksual berjalan secara efektif. Masalahnya mungkin saja guru tidak mampu berdiskusi mengenai seksualitas secara terbuka dan tidak berinteraksi dengan remajadengan serius. Maka pertanyaannya menjadi: apakah yang menjadi faktor penentu perilaku guru ini: apakah mereka kurang pengetahuan mengenai remajadan seksualitasnya?; apakah mereka mempunyai sikap terbuka terhadap remajadan seksualitasnya?; apakah mereka dipengaruhi secara negatif oleh lingkungan sosialnya (koleganya, orang tuanya, masyarakat, administrasi sekolah)? Atau apakah mereka kurang keterampilan dalam pendidikan interaktif dan bicara terbuka mengenai seksualitasnya? Jika anda mengetahui faktor penentu utama, maka intervensi dalam bentuk pelatihan guru dapat dikembangkan bersama dengan beberapa guru untuk mengatasinya.

 

Di tingkat berikutnya, masalah dapat berupa pihak administrator sekolah yang tidak mendukung guru, sehingga penyebab dari perilaku mereka haruslah jelas untuk mengetahui intervensi mana yang sangat tepat. Makin tinggi, tingkat per tingkat, intervensi dapat direncanakan dan dikembangkan dengan Perubahan Perilaku sebagai teori sentral untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memudahkan. Promosi Kesehatan membutuhkan kumpulan intervensi di setiap tingkatan seperti kesehatan dan pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *