Welcome

Kerjasama

Bulan-bulan terakhir ini, ada rasa
optimisme yang membuncak dalam dadanya. Kegairahan baru yang begitu
membara. Pasalnya, bertahun yang lalu, Kliwon meneriakkan makna
pentingnya bekerjasama dalam mendorong terjadinya perubahan sosial.
Bahkan, paruh akhir tahun 80-an, di kalangan aktivis muncul seloroh,
‘apa bedanya, kerjasama, sama-sama kerja, kerja sama-sama, kerja
bersama dan bersama kerja.’ Kliwon selalu tidak hendak memberikan
jawaban, karena menurutnya, realitas yang paling berhak untuk
menjawabnya. Kini, di penghujung tahun 2008 dan memasuki gerbang
tahun 2009, Kliwon menemukan jawaban dari realitas itu. Di mana-mana,
Kliwon mendengar dan melihat, semangat untuk melakukan sesuatu secara
bersama-sama, menggema. Mengharu-birukan langit gerakan sosial di
Indonesia.

Kampanye dan Pemilih Kritis

Hampir sembilan
bulan, ruang publik dipengapi berbagai simbol partai politik dengan
jargon-jargonnya, potret gambar calon legislatif, spanduk-spanduk
ucapan selamat, dan hari-hari besar agama maupun nasional. Mulai
pekan ini (16 Maret), ruang publik akan bertambah pengap tidak saja
oleh deru suara kendaraan bermotor yang digeber, memekakan telinga,
tetapi juga hilangnya rasa aman dan nyaman sepanjang perjalanan.
Pasalnya, kampanye terbuka akan segera dimulai, sebagai proses
pemaparan visi, misi dan agenda partai manakala memenangkan Pemilu,
dan lebih khusus lagi ajang unjuk kekuatan partai politik sebagai
kontestan Pemilu 2009.

Memenangkan Perikemanusiaan

Saya masih asyik sendiri, membaca
kembali buku karya YB Mangunwijaya, Sastra dan Religiositas, yang
terbit tahun 1982. Duapuluh enam tahun lalu. Kalimat-kalimat yang
mengalir, ringan, jernih, meskipun memiliki bobot kajian yang amat
luas dan mendalam, menjadikan saya hanyut membaca begitu suntuknya.
Buku yang memenangkan Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta ini,
mengurai berbagai karya sastra novel dan cerita pendek dengan amat
jelinya. “Wah, serius banget, Pak,” sapa teman mudaku di
tengah-tengah keasyikanku membaca, bahkan sapaan itu sampai pada
tingkat mengejutkan kesunyianku.

ARV

Saya baru saja selesai makan siang.
Teman mudaku muncul dengan wajah yang tampak tidak bersahabat. Sedang
uring-uringan rupanya. Saya mencoba menebak-tebak, apa yang soal apa
yang sedang mengusik pikirannya. Apakah sedang ada masalah dengan
pasangannya? Pasti tidak, karena teman mudaku selalu memiliki
kemampuan untuk memisahkan persoalan-persoalan kantor sebagai
profesional dan persoalan individu. Dia memang beda, tetap konsisten,
urusan kantor diselesaikan di kantor, dan urusan individu
diselesaikan di rumah atau di warung nasi kucing. Dalam soal ini,
saya agak malu dengan teman mudaku, karena terkadang saya malah tidak
bisa konsisten dengan sikap profesional itu. Urusan kantor saya
bicarakan di rumah, dan urusan rumah saya diskusikan di kantor.

Kekuasaan (3)

Kepadatan kerja dan sangat melelahkan
tak juga menyurutkan teman mudaku untuk meluangkan waktu ngobrol ria,
setelah jam kerja formal usai. Suasana tak juga berbeda, santai,
ongkang-ongkang, dan selalu saja berbeda orang yang terlibat. Saya
suka saja, meskipun sore ini pesan pendek baru saja saya terima dari
pasanganku di rumah, “kpn plg, anak panasn badannya.” Tetapi
wajah-wajah bersemangat dalam pencarian ideologi gerakan, tak mampu
membuat saya untuk segera meninggalkan lingkar obrolan itu.