LGBTIQ

Gender dan Kekuasaan

Gender & Kekuasaan Gender bisa diartikan sebagai ide dan harapan dalam arti yang luas yang bisa ditukarkan antara laki-laki dan perempuan, ide tentang karakter femini dan maskulin, kemampuan dan harapan tentang bagaimana seharusya laki-laki dan perempuan berperilaku dalam berbagai situasi. Ide-ide ini disosialisasikan lewat perantara keluarga, teman, agama dan media. Lewat perantara-perantara ini, gender terefleksikan … Read more

Sejarah TDoR (Transgender Day of Rememberance)

Transgender Day of Rememberance (TDoR) merupakan sebuah peringatan yang dilaksanakan pada 20 November di setiap tahunnya, untuk mengenang orang-orang yang meninggal karena kekerasan yang diakibatkan Transphobia di masyarakat, atau memperoleh kekerasan karena keberadaannya sebagai orang Trans*. Tidak hanya bagi mereka dengan identitas Trans*, TDoR juga digunakan untuk mengenang mereka yang mengalami kekerasan karena memperjuangkan hak-hak … Read more

Transphobia

Transphobia – adalah ketakutan dan kebencian, atau perasaan yang sangat tidak nyaman dengan orang – orang yang memiliki identitas gender dan ekspresi gender yang tidak sama dengan yang diharapkan/ dipakemkan oleh budaya tertentu. Cowok atau cewek sich? Penampilan seperti apa yang sebenarnya identik dengan cowok atau cewek? Tidak semua cowok senang berpenapilan sangat maskulin, pun … Read more

PETISI REMAJA

Ada 4 petisi yang disepakati oleh Youth Forum DIY, yaitu: 1. Tuntutan Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja Alasan : Tekanan seksualitas yang dihadapi remaja karena kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi. Banyak persepsi yang salah tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Menurunkan tingkat resiko kespro di remaja. Minimnya akses bagi remaja terhadap pengetahuan kespro yang benar. Hasil … Read more

HOMOPHOBIA

HOMOP

Meskipun American Psychiatric Assosiation telah menghapuskan homoseksual dari daftar gangguan kejiwaan pada tahun 1974 dengan tidak mencantumkannya dalam DSM III (Masters, 1992), namun sikap masyarakat terhadap homoseksual tidak banyak berubah. Stereotyping, diskriminasi, dan marjinalisasi terhadap kaum homoseksual masih sering dijumpai dalam masyarakat kita yang menjunjung tinggi budaya patriarki. Homoseksual merupakan bagian minoritas di dalam masyarakat yang didominasi kaum heteroseksual. Homoseksual seringkali menjadi menjadi “mangsa” empuk bagi berbagai pihak. Hal tersebut disebabkan salah satunya oleh ketidaktahuan masyarakat bahwa homoseksual tidak selalu identik dengan kelakuan negatif dan buruk, namun sebaliknya, kaum homoseksual juga sama seperti kaum heteroseksual.

Homophobia dan heteroseksisme merupakan salah satu imbas dari ketidaktahuan tersebut. Weinberg mengartikan homophobia sebagai ketakutan terhadap homoseksual dan bentuk-bentuk lain yang menunjukkan keintiman dua jenis kelamin yang sama (Allgeier, 1991). Sementara heteroseksisme adalah paham bahwa manusia hanya boleh berhubungan secara seksual dengan lawan jenisnya. Seringkali paham seperti ini melahirkan sikap diskriminatif, prasangka buruk terhadap kaum homoseksual yang dianggap ganjil, sakit, dan menyalahi kodrat (Tan, 2005).

Ada gay dan lesbian yang berjuang melawan homophobia dalam dirinya sendiri. Mereka memiliki kecemasan akan orientasi seksualnya sendiri dan tanggapan lingkungannya.

Sikap dan Perilaku Diskriminatif berdasarkan Orientasi Seksual

Beberapa sikap dan perilaku ini misalnya:

  1. Mengejek homoseksual
  2. Membuat lelucon yang melecehkan homoseksual
  3. Membuat malu seseorang karena orientasi seksualnya
  4. Tidak mau berteman dengan homoseksual
  5. Menghindari satu kelompok dengan teman yang homoseksual
  6. Melakukan kekerasan fisik seperti memukul, menendang, melukai homoseksual

Sikap dan perilaku diskriminatif ini muncul dari kurangnya informasi masyarakat mengenai homoseksualitas, di samping beredarnya mitos-mitos yang menyudutkan homoseksual. Mitos-mitos tersebut misalnya:

  1. Homoseksual adalah tidak normal dan sakit

Fakta: Dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III, 2002), homoseksual tidak termasuk golongan gangguan jiwa. Jadi pendapat selama ini bahwa homoseksual adalah penyakit kejiwaan atau kelainan, adalah tidak benar. Hal ini juga mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual III (DSM) yang disusun oleh American Psychiatric Association pada tahun 1974, yang menjadi pegangan psikolog dan psikiater di seluruh dunia. Badan Kesehatan Internasional, WHO, juga telah mencoret homoseksual dari daftar penyakit melalui pedoman Internasional Classification of Desease (ICD-10)

  1. Gay adalah pelaku penganiayaan anak

Fakta: Sebuah kajian di Amerika menunjukan hanya 1 dari 387 kasus penganiayaan anak yang dicurigai dilakukan oleh gay, sisanya dilakukan oleh laki-laki heteroseksual (1992)

  1. Homoseksual menarik orang lain untuk mengikuti kehidupannya dan bisa menular

Fakta: Seorang heteroseksual tidak bisa dipaksa menjadi homoseksual, demikian juga sebaliknya. Terdapat sekitar 30 penelitian yang sudah dilakukan untuk meneliti anak-anak yang orang tuanya gay atau lesbian ternyata menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal identitas gender dan orientasi seksual dengan anak-anak yang dibesarkan oleh orang tuanya heteroseksual. Sama seperti homoseksual yang tidak bisa menjadi heteroseksual karena lingkungannya heteroseksual, seorang heteroseksual juga tidak bisa menjadi homoseksual karena lingkungannya homoseksual. Yang kebanyakan terjadi adalah, mereka baru mengetahui orientasi seksual mereka setelah mereka bertemu dengan komunitasnya.

  1. Homoseksual adalah pilihan

Fakta: Sama seperti heteroseksual yang tidak memilih ketertarikan emosi dan seksualnya, homoseksual juga demikian. Pilihannya adalah pada pengekspresian perasaan mereka, atau justru menutupinya.

  1. HIV dan AIDS adalah penyakit gay

Fakta: HIV dapat menginfeksi siapapun. Justru jika masyarakat masih berpikiran seperti ini, mereka tidak akan melakukan upaya pencegahan. Ini adalah masalah perilaku, bukan orientasi seksual.

  1. Homoseksual tidak bisa berprestasi

Fakta: Beberapa kajian menunjukkan bahwa beberapa orang yang sukses dan terkenal adalah homoseksual. Homoseksual ada yang menjadi guru, dokter, pengacara, pekerja pabrik, polisi, politikus, menteri, bintang film, artis, suster, supir truk, model dan penulis novel.

  1. Gay itu feminin dan lesbian itu maskulin

Fakta: Sama seperti heteroseksual, gay dan lesbian juga bisa berada dalam pada tingkatan maskulinitas dan femininitas yang berbeda-beda.

  1. Homoseksual itu menjijikan

Fakta: Itu hanya masalah pendapat. Sama seperti bagi orang yang tidak menyukai buah durian, misalnya. Ada orang yang tidak suka karena menganggap baunya menjijikan. Namun ada juga orang yang menyukainya. Pendapat setiap orang yang berbeda terhadap sebuah benda atau perilaku tidak mengubah sifat alami benda atau perilaku tersebut

  1. Homosekual datang dari keluarga yang bermasalah atau keluarga yang tidak memiliki dasar agama yang kuat

Fakta: Homoseksual dibesarkan dalam bermacam-macam tipe keluarga, sama seperti heteroseksual. Homoseksual juga ditemukan dalam berbagai macam agama dan keyakinan, dengan tingkat yang berbeda-beda

  1. Homoseksual adalah orang yang menyedihkan, seringkali dengan depresi berat

Fakta: Heteroseksual juga banyak yang mengalami hal ini. Faktanya, banyak homoseksual yang merasa nyaman dengan kehidupannya sehingga bisa bekerja dan berprestasi. Stres biasanya dialami homoseksual di masa awal penyesuaian diri karena tekanan dari masyarakat yang tidak mau menerima keberadaan dirinya.

Bersikap Terhadap Orang Lain Yang Homoseksual

Pada masa remaja, kebanyakan orang berada dalam proses mempertanyakan siapa dirinya, beberapa bertanya-tanya mengenai orientasi seksualnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak membuat kesimpulan terburu-buru untuk menilai seseorang homoseksual atau heteroseksual. Jika ada seseorang yang mengatakan, “sepertinya aku gay/ lesbian,” ada baiknya kita menanyakan dulu apa yang ia ketahui mengenai homoseksualitas dan mengapa ia berpikiran … Read more

Talkshow Homoseksualitas di Fakultas Psikologi UGM

Salah satu faktor yang menjadikan seseorang menjadi homosekual karena pengaruh lingkungan yang mendukung. Meskipun ada pendapat lain, yang mengatakan sebagai ‘given’ (terberi). Hal ini didiskusikan dalam Talkshow bertajuk Homosekaul dan Kekerasan Fisik, di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, pekan lalu. Talkshow menghadirkan Kwartarini Wahyu Niarti, Psi,M.Med. Sc, Ph.D (Fakultas Psikologi UGM),  Drs. Suprapto, SU (Sosio-Kriminologi Fisipol UGM) dan Rahayu Ajie Asmoro (Koordinator Program Pengorganisasian Komunitas PKBI DIY).

Perjuangan Hak Identitas LGBTQ

Kelompok Komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transeksual) Jogjakarta yang tergabung
dalam Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan dan Diskriminasi, berkumpul di depan
Gedung Agung Jogjakarta, Rabu (13 Agustus 2008) mengadakan aksi sebagai respon pemberitaan kasus Ryan yang selalu
dikaitkan dengan orientasi seksual. “Kami berharap media tidak
lagi menyebutkan orientasi seksual mendasari kekerasan dan kriminalitas,” kata Deo, peserta aksi.