Welcome

KIMCIL: Ketika Bunga Layu Sebelum Berkembang

“Cie,
kamu mau cari Kimcil ya?”… Itulah pertama kalinya aku dengar kata ’kimcil’.
Sempet aku berfikir kalau  ‘kimcil’’
itu sejenis masakan Korea yang dibikin dari sawi yang
difermentasikan..Ha…ha…,yupp…aku kira ‘kimcil’’ itu ‘Kimci’… tapi
ternyata perkiraanku itu justru jadi bahan ketawaan orang.

Aku
pertama kali dengar istilah ‘Kimcil’’ dari temen-temen friendster.
Dari mereka pulalah aku tau apa maksud dari ‘Kimcil’’, entah siapa
pencetus dari kata itu. ‘Kimcil’’ merupakan singkatan dari Kimpol
Cilik. Mungkin yang dimaksud adalah pemilik dari betis (yang dalam bahasa
Jawa disebutnya Kimpol) kecil yang dalam hal ini adalah remaja perempuan seusia
anak sekolahan. Tentu, yang dimaksud bukan remaja biasa tapi remaja sekolahan
yang ngejual tubuhnya demi beberapa rupiah…

Kebetulan,
aku yang juga seorang anak SMA, yang banyak punya temen di berbagai sekolah,
mulai mencium keberadaan kimcil secara nyata. Banyak temenku di beberapa
sekolah di Jogja bercerita tentang keberadaan kimcil di sekolahnya. Dan
fakta yang mengejutkan adalah ternyata dalam dunia perkimcilan, terdapat
strata yang ngebedain antara populasi kimcil  yang satu dan yang laennya! Wow, c’est
bizarre…

Suatu
populasi kimcil yang dianggap ciamik alias nempatin ras tertinggi ialah kimcil yang pakai seragam sekolah swasta, itu terkenal dan berbiaya mahal. Udah jadi
rahasia umum bahwa murid-murid perempuan yang belajar di sekolah-sekolah
tersebut merupakan gadis-gadis cantik dan punya selera tinggi. Sedangkan untuk kimcil kelas menengah atau bawah biasanya ditempati oleh murid-murid yang belajar disekolah
yang (maaf) menengah ke bawah dan sengaja pengen ngikutin trend dari golongan
atas.

Aku
sempet berfikir sejenak apa yang menjadikan para kimcil ini terjun ke
dunia gelap yang sebenarnya belom pantas mereka cerna. Beberapa alasan yang
membuat mereka tertarik untuk menjadi kimcil :

  1. Karena tuntutan
    ekonomi yang mendesak. (Tapi setelah aku pikir lagi, kebanyakan kimcil justru berasal dari taraf ekonomi yang tinggi).
  2. Pengaruh
    pergaulan yang nggak bener.
  3. Akibat dari
    penyerapan budaya asing tanpa adanya filterisasi (penyaringan)
  4. Keinginan buat
    tampil keren dan memakai barang-barang bermerk, dan buat ngewujudin itu
    secara gampang, mereka rela jadi kimcil.
  5. Keinginan buat
    sekedar senang-senang aja.

Alangkah
ironisnya, keberadaan kimcil tetep dipandang negatif oleh khalayak
(masyarakat). Tapi, hak asasi perseorangan tetep ngebebasin kita buat mandang
mereka dari sudut pandang manapun. Nasihat bijak buat teman-teman yang pengen
nyoba terjun ke dunia perkimcilan, sebaiknya pikir 2 kali deh… bahwa
hal tersebut bisa nyoreng nama temen-temen, keluarga temen-temen, dan sekolah
tempat kamu belajar dimata masyarakat. Selain itu, kamu juga beresiko mengalami
Kehamilan Tidak Diinginkan, terkena Infeksi Menular Seksual (IMS), terpapar HIV
AIDS apabila perilakunya tidak sehat. So, jika belom waktunya kita berkembang,
jangan biarin diri kita layu sebelumnya… Setuju? Salam merdeka!

Amnesti Marta Sari (SMA N 8 Yogyakarta)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *