Macam-Macam Penyesuaian Diri

penyesuaian-diri

Schneiders (1964) membagi penyesuaian diri ke dalam beberapa kategori. Pembagian itu berdasarkan konteks situasional dari respon yang dimunculkan individu, terdiri dari penyesuaian personal (pribadi), penyesuaian sosial, penyesuaian perkawinan, dan penyesuaian vokasional (pekerjaan). Di bawah ini akan dibahas 2 macam penyesuaian diri yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.

  1. Penyesuaian Pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.

Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya kesenjangan antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Kesenjangan inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.

  1. Penyesuaian Sosial

Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.

Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam proses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.

Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.

Penyesuaian sosial merupakan penyesuaian yang dilakukan individu terhadap lingkungan di luar dirinya, seperti lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Penyesuaian sosial yang dilakukan individu dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu sebagai berikut :

  1. Kondisi Fisik, yang meliputi keturunan, kesehatan, bentuk tubuh, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fisik
  2. Pertumbuhan dan Kematangan, yang meliputi perkembangan intelektual, sosial, moral, dan kematangan emosional. Pertumbuhan yang bersifat biologis berhubungan dengan perkembangan reproduksi, remaja diharapkan mampu mengelola dorongan seksualnya sehingga sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Perkembangan fisik selama pubertas bagi remaja merupakan masa yang membutuhkan kemampuan penyesuaian diri yang baik, remaja akan menemukan bentuk tubuh yang baru dan proses-proses alamiah yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.
  3. Kondisi Psikologis, yaitu faktor-faktor pengalaman individu, frustrasi, dan konflik yang dialami, dan kondisi-kondisi psikologis seseorang dalam penyesuaian diri. Kebutuhan-kebutuhan psikologis juga termasuk didalamnya seperti kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang, dan harga diri
  4. Kondisi Lingkungan, yaitu kondisi yang ada di lingkungan seperti kondisi keluarga, sekolah dan masyarakat.
  5. Budaya, termasuk adat istiadat dan agama yang turut mempengaruhi penyesuaian diri seseorang.

Tinggalkan komentar