Welcome

Seks? Auk ah elap..

Temen-temen remaja mungkin sering ngomong seperti itu, ketika temen–temen sedang membicarakan masalah seksualitas dengan teman sendiri, saudara, ataupun orang tua sendiri. Sebenarnya hal ini sangat penting dan baik bagi perkembangan kita (maksudnya
penting dalam arti untuk informasi dan pedoman). Selain itu berbagi masalah (tukar pikiran, ngobrol dll) seputar seks itu juga dapat membantu temen-temen remaja ketika temen-temen memiliki keluhan dengan seksualitasnya, kurang mengerti seputar seksualitas, bahkan ingin tahu caranya agar temen-temen menghindarkan diri agar tidak tertular Infeksi Menular Seks (IMS) dan sebagainya. Nah, dengan terbuka dengan orang lain, tentu orang tersebut dapat (sebisa mungkin) mencarikan solusi ataupun jalan keluar terbaik atas masalah temen-temen tersebut.

Seksualitas, seharusnya tidak dianggap tabu, tetapi seharusnya kita pahami sebagai suatu keniscayaan yang sah dan alamiah dalam kehidupan manusia. Karena pengertian seksualitas sendiri selalu hadir dan terlintas dengan makna dan ruang-ruangnya sendiri, di setiap waktu, di setiap tempat. Seksualitas adalah bagian yang sah dan kodrati dari kehidupan manusia. Tetapi anggapan khalayak memandang sebelah mata akan pentingnya menghapus rasa tabu itu untuk membicarakan secara sopan dan teratur masalah seksualitas. Agar semua yang belum mengerti maupun yang tidak mengerti benar mengenai masalah seksualitas tidak salah mengartikannya dan tidak terjerumus.

Tragisnya kebanyakan dari kita sejak kecil, oleh orang tua kita telah dicekoki oleh larangan-larangan agar kita tidak mengetahui apa yang belum saatnya kita ketahui (padahal sebetulnya sudah saatnya, ya pelan-pelan kan lebih baik setuju nggak?). Mungkin sebagian dari temen-temen mengalami hal tersebut hingga sekarang. Sering juga saya mendengar dari teman sebaya saya bahwa ketika dia membicarakan keluhan seksualnya kepada orang tuanya, justru orang tuanya malah memotong pembicaraan agar pembicaraan jangan diteruskan, “Bicara apa kamu itu belum saatnya!”. Dari situ saya berpikir ternyata orang tua itu harus lebih terbuka dengan masalah seperti ini, hal ini memang sepele namun akibatnya sungguh mempertimbangkan masa depan seorang anak.

Pada masa remaja informasi yang cukup, dukungan dan keterbukaan orang tua sangat dibutuhkan agar si remaja ini tidak salah melangkah. Dan mereka menjadi yakin akan jalan yang nantinya akan ditempuhnya. Kebanyakan orang tua belum berpikir sejauh itu. Tetapi hal ini sungguh sangat vital akibatnya bagi si remaja. Oleh karena itu orang tua seharusnya lebih terbuka dengan anak-anaknya mengenai masalah reproduksi (seksualitas si anak) sehingga si anak menjadi tahu tanggung jawabnya untuk menjaga, merawat, melindungi, dan menjaganya dengan benar
tentunya.

Kita adalah ciptaan sang Maestro Teragung di seluruh dunia yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kita diciptakan tidak akan sama persis satu dengan yang lain. Ibarat karya seni maestro terkenal, yang di pajang saat pameran pastilah di setiap karya seni tersebut akan tetulis “ Jangan Di Pegang “, artinya jika belum dibeli dan dibayar lunas tidak boleh dipegang. Meskipun diberi uang muka barang masih tetap di tempat. Bandingkan dengan barang obralan di pasar yang harganya seribu tiga, barang tersebut boleh dipegang, dipilih, bahkan dicoba. Sama halnya dengan manusia, pada masa pacaran itu adalah uang muka dan itu belum lunas, itu artinya dipegang dan dicoba berarti harus tanggung jawab membayar dengan mas kawin (menikah maksudnya). Jadi dari sini saya harap kita dapat menjaga karya tangan Tuhan yang maha istimewa dan tak terbayangkan harganya, di mata manusia. Jika kita menyerahkan karya Tuhan ini kepada orang lain berarti kita telah menentukan masa depan kita (menyerahkan masa depan kita). Ingatlah temen-temen remaja waktu terus berjalan maju dan takkan berhenti ataupun kembali mundur. Jadi hati-hatilah dalam melangkah, jika tidak tahu bertanya (kata orang “ malu bertanya sesat di jalan”). Hidup adalah pilihan bukan jadi suka-suka temen-temen, keputusan di tangan temen-temen. Oke guys…

“ Menjadi Tua Itu Sudah
Seharusnya, namun Menjadi Dewasa Itu Adalah Suatu Pilihan”

Greorius Widya
Ispurdianto (SMK Marsudi Luhur 1 Yogyakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *