Welcome

Balanced Scorecard di Organisasi Nirlaba

Sudah banyak strategi dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan organisasi nirlba mencapai tujuannya, dari sisi perumusan program, mengukur tingkat kepuasan pemangku kepentingan, anggaran maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusianya. Woro Ireng Renoati, mahasiswa pascasarjana program Magister Profesi Fakultas Psikologi UGM, melalui penelitian tesisnya, menawarkan Balanced ScoreCard (BCC) sebagai salah satu strategi itu. “Ini hanya sekedar membantu,” katanya dalam Workshop BCC, pekan lalu, bersama Staff PKBI DIY, di Badran.

 

 

BCC terbanyak memang diterapkan di perusahaan profit, hasilnya efektif dan menguntungkan. Bagaimana jika diterapkan untuk organisasi nirlaba? Pertanyaan inilah yang mendorong Woro mengambil penelitian mengenai Balanced Scorecard di lembaga Nirlaba. Dipilihnya PKBI DIY, karena dianggap lembaga yang berdiri puluhan tahun, terbukti serius dan konsisten, serta berasal dari kebutuhan masyarakat Indonesia.

 

Menurut Woro, BCC dikembangkan Robert S. Kaplan, profesor akuntansi di Universitas Harvard dan David Norton, konsultan bisnis di Boston. BCC merupakan alat pengukuran kinerja dan penyusunan strategi. “Memuat target berimbang yang hendak dicapai organisasi dalam kurun waktu tertentu, kemudian dievaluasi setelah kurun waktu yang ditentukan berakhir,” katanya.

 

BCC memudahkan manajemen menurunkan visi dan misi organisasi dalam aktivitas sehari-hari, membantu organisasi mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan serta strategi manajemen melihat keterkaitan antaraspek dalam organisasi dan mengoptimalkan masing-masing fungsi.

 

Temuan sementara, menurut Woro, semangat kerelawanan khususnya staf dan relawan sangat tinggi, meskipun tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan secara signifikan. “Tingginya semangat kerelawanan juga diikuti dengan tingginya antusiasme belajar,” tururnya.

 

Orientasi kerelawanan cenderung bersifat praktis. Karenanya, menurut Woro, pemikiran strategi kadang menjadi terlupakan. ”Padahal rata-rata pendidikan relawan S1, sehingga memiliki kemampuan merancang strategi dan analitis,” katanya.

 

surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *