Welcome

Talkshow Homoseksualitas di Fakultas Psikologi UGM

Salah satu faktor yang menjadikan seseorang menjadi homosekual karena pengaruh lingkungan yang mendukung. Meskipun ada pendapat lain, yang mengatakan sebagai ‘given’ (terberi). Hal ini didiskusikan dalam Talkshow bertajuk Homosekaul dan Kekerasan Fisik, di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, pekan lalu. Talkshow menghadirkan Kwartarini Wahyu Niarti, Psi,M.Med. Sc, Ph.D (Fakultas Psikologi UGM),  Drs. Suprapto, SU (Sosio-Kriminologi Fisipol UGM) dan Rahayu Ajie Asmoro (Koordinator Program Pengorganisasian Komunitas PKBI DIY).

Menurut Drs. Suprapto, lingkungan seseorang hidup bisa menyebabkan seseorang menjadi homoseksual. Laki-laki yang hidup di dunia modeling, sering melihat tubuh lawan jenisnya saat berganti pakaian, menjadi mati rasa terhadap lawan jenisnya. Ia akan menjadi homoseksual. “Dengan membangun konsep diri yang tepat dan berada di lingkungan yang tepat dapat membuat seseorang tidak berperilaku homoseksual,” katanya.

“Menurut saya, homoseksual adalah sesuatu yang terberi atau given karena tidak ada satu teori pun yang valid tentang bagaimana penyebab homoseksual,” kata Rahayu Ajie Asmoro. Menurutnya, harus dibedakan antara orientasi seksual dan perilaku homoseksual. Seorang laki laki heteroseksual pun bisa berperilaku homoseksual di saat tertentu, misalnya di penjara, karena tidak bisa menyalurkan hasratnya kepada lawan jenis. Lalu ia menyalurkan hasratnya dengan sesama jenis. Tapi setelah keluar dari penjara ia segera melupakan dan tidak melakukan perilaku seks tersebut. Sedangkan orientasi seksual, ketertarikan secara fisik emosional dan seksual dengan lawan jenis, sesama jenis, maupun kedua-duanya. “Bukan hanya hasrat seks,” katanya.

Menurut Kwartarini, dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Ganguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993 sudah tidak lagi menyebutkan homoseksual sebagai gangguan jiwa. Dalam PPDGJ, hanya menyeut homoseksual ego distonik, orang yang merasa terganggu dengan kehomoseksualitasanya, yang digolongkan sebagai gangguan jiwa.

bie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *