Welcome

GenRe Camp, Peran Remaja Dalam Upaya Membangun Karakter Bangsa Mewujudkan Indonesia Sejahtera

genre

Yogyakarta (PKBI News Network)– Hampir 100 remaja perwakilan Youth Forum dan PIK-R GenRe Kabupaten/Kota Se-DIY berkumpul di Omah Jawi, Kaliurang Jumat-Sabtu 26-27 Agustus 2016 pada kegiatan GenRe Camp . Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama PKBI DIY dan BKKBN DIY dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional 2016. Pada kegiatan tersebut turut hadir Kepala Perwakilan BKKBN DIY beserta staff jajarannya, Ketua Pengurus PKBI DIY serta Direktur Eksekutif Daerah PKBI DIY. Dalam sambutannya, Bapak Urip Bahagia selaku Ketua Pengurus Daerah PKBI menyampaikan bahwa pentingnya konsolidasi bersama dalam rangka perjuangan kesehatan reproduksi dan seksual. “Mudah-mudahan kerjasama ini dapat terus berlanjut dalam rangka penanganan permasalahan kesehatan reproduksi karena itu adalah tantangan kita saat ini” ujar beliau.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN DIY Ibu Evi Ratnawati yang juga membuka kegiatan GenRe Camp ini meyampaikan bahwa permasalahan remaja di DIY cukup kompleks. “Permasalahan remaja di DIY cukup kompleks sekali, termasuk diantaranya salah satunya adalah pernikahan dini. Oleh karena itu,kalian sebagai corong kita semua untuk memberikan kampanye tentang pendewasaan usia perkawinan” ujar Ibu Evi

Selepas acara pembukaan dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait fakta risiko kesehatan reproduksi dan seksual. Narasumber pada sesi ini adalah Bapak Gama Triono selaku Direktur Eksekutif PKBI DIY dan Bapak K. Baskoro Aji selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga DIY. Dalam kesempatan tersebut Bapak Gama menyampaikan fakta-fakta risiko reproduksi dan seksual yang ada di DIY serta menyampaikan 12 Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual, yang mana salah satu haknya adalah Hak untuk mendapatkan Informasi dan pendidikan. Di sini sangat jelas bahwa setiap remaja memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan termasuk siswi KTD.

Hal tersebut senada dengan pernyataan bapak Baskoro Aji menyampaikan bahwa siswi KTD tetap bisa meneruskan sekolahnya. “Pemerintah terutama Dinas Dikpora itu sebenarnya tidak pernah ada larangan kepada siswa yang posisinya sedang hamil untuk tidak bisa sekolah, hanya saja kadang mereka malu” ungkap beliau.

Sesi terakhir hari pertama diakhiri dengan diskusi Perjuangan Remaja dalam Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual dilanjut dengan malam keakraban, peserta saling berbaur satu sama lain yang membuat malam terahir hari prtama ini semakin terasa hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *