Welcome

Ketimpangan Gender Dalam Dimensi Budaya

Kecenderungan laki-laki diorientasikan kebidang publik dan wanita kebidang domestik telah memproduksi ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin.[1] Wanita lebih bertanggung jawab terhadap keluarga dan segala kegiatan yang berkaitan dengan rumah tangga, seperti pengasuhan anak. Laki-laki terlibat langsung dalam bidang ekonomi dan politik (sebagai kegiatan publik) yang dianggap sebagai institusi utama dalam masyarakat modern.[2]

Dalam proses sosialisasi wanita cenderung dihubungkan dengan kegiatan domestik tersebut, yang dianggap sebagai kegiatan yang “kurang” penting dalam perkembangan masyarakat modern yang bertumpu pada proses produksi dan birokrasi. Asosiasi semacam ini telah mereproduksi ketimpangan gender yang terus menerus, karena dalam proses sosialisasi wanita disosialisasikan ke dalam suatu nilai dan ukuran sosial budaya yang kemudian pilihan-pilihannya ditentukan oleh laki-laki atau dalam kerangka struktural yang patriarkal.

Kedudukan wanita karenanya dibingkai oleh tatanan yang terpusat pada laki-laki yang ditegaskan oleh lembaga-lembaga pendukung.[3] Mitos-mitos telah dibangun untuk menyatakan bahwa tempat laki-laki adalah di duia kerja dalam perjuangannya untuk hidup, sementara tempat wanita di rumah, mengatur rumah tangga dan merawat anak.[4] Dalam kerangka inilah definisi siapa itu wanita dan bagaimana “menjadi wanita” dirumuskan. Enggawati Tedjasukmana menulis :

Ketika saya masih kecil, tertanam pendidikan dari orang tua yang menyebabkan anak-anak wanita tidak terlalu berambisi menjadi wanita karier. Tidak ada pilihan hidup bagi gadis-gadis selain menjadi istri dan ibu bagi suami dan anak-anaknya kemudian. Banyak keluarga yang mengejek anak perempuan yang menjadi juara kelas tapi tidak dapat menanak nasi. Keluarga yang mempuyai banyak pembantu pun tetap mengharuskan gadisnya membereskan kamar sendiri dan mempelajari soal dapur. Para ibu yang mempunyai gadis sangat khawatir apabila anak-anaknya tidak mendapatkan jodoh. Rupanya prestasi tertinggi nilainya bagi seorang wanita adalah apabila ia berhasil menikah dan mempunyai anak.[5]

Proses sosialisasi semacam ini telah membatasi pilihan-pilihan hidup wanita. Sesuatu yang berada di luar dapur, anak, rumah tangga, diangagp bukan sebagai tempat yang sesuai bagi wanita.

Keluarga, sekolah, bacaan, dan televisi telah menjadi sumber pengetahuan tentang bagaimana menjadi wanita yang ideal, yang sesuai dengan tatanan sosial. Yang sangat penting adalah institusi ini telah menegaskan suatu bentuk hubungan laki-laki dan wanita dalam berbagai praktik kehidupan. Proses internalisasi mengakar dalam institusi tersebut yang telah menjadi dasar dari gambaran keterlibatan wanita dalam berbagai proses sosial di mana laki-laki tetap ditonjolkan. Proses semacam ini merupakan konstuksi yang secara terus menerus menegaskan suatu realitas objektif yang memiliki daya paksa.[6] Apa yang diajarkan dalam keluarga dan institusi lain dapat berarti sesuatu yang memang dihasilkan oleh keluarga itu sendiri dan pada saat yang sama juga merupakan artikulasi dari nilai dan norma yang berlaku secara sosial. Perbedaan domestik dan publik ditentukan oleh proses pemaknaan yang bersumber dari dunia makna (univers of meaning) yang merupakan pedoman kehidupan.[7]

Pengaruh akar sosial budaya dalam mengasosiasikan wanita sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberi warna dalam keterlibatan ekonomi wanita. Pemaknaan keterlibatan ekonomi wanita ditentukan oleh sistem ideologi yang memberi kemungkinan dan batas. Ideologi ini terwujud dalam etos kerja yang mempengaruhi keterlibatan wanita karena ia kemudian membentuk etika kehidupan yang bersifat evaluatis. Ukuran-ukuran nilai dan keterlibatan wanita ditentukan oleh etika-etika tersebut. Proses sosialisasi wanita yang cenderung mengasosiasikan wanita dengan kegiatan domestik dan sifat kewanitaan, menyebabkan tejadinya proses indentifikasi pekerjaan-pekerjaan publik yang sesuai dengan sifat wanita. Dapat dilihat kecenderungan bahwa wanita bahwa wanita ternyata terlibat dalam sektor-sektor yang sudah terpola dan terpusat pada pekerjaan-pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”, seperti sekretaris, resepsiois, waiterss, atau pembantu rumah tangga.[8] Perbedaan wanita dengan laki-laki yang telah disosialisasikan dalam keluarga kemudian terrefleksi dalam kecenderungan “menerima perintah” dan “memberi perintah”.[9] Orang yang memberi perintah (laki-laki) mengidentifikasikan dirinya dengan cita-cita organisasi dan memiliki posisi formal. Sebaliknya, orang yang menerima perintah (wanita) adalah orang yang terasing dari cita-cita organisasi dan teridentifikasi dengan hubungan-hubungan informal.[10] Wanita sebagai penerima perintah, di dalam suatu struktur kekuasaan, berada pada pisisi yang lemah dan terlibat secara mendalam dengan hubungan-hubungan personal yang mempengaruhi ukuran-ukura kedudukan dan kesempatan.[11]

Kalaulah pilihan-pilihan pekerjaan yang diambil wanita itu dapat dikatakan sebagai pekerjaan marginal,[12] maka proses marginalisasi itu merupakan proses yang dimulai dalam keluarga, di sekolah, terdapat dalam bacaan, dipelajari melalui televisi, dan dikuatkan secara sosial pada saat kedudukan marginal itu merupakan realitas objektif. Realitas ini disahkan oleh nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan etika-etika kehidupan yang tersusun dengan kokoh sejalan dengan proses pembentukan identitas masyarakat, yang dipengaruhi oleh pertemuan masyarakat tersebut dengan berbagai sistem ideologi. Subordinasi wanita karena itu merupakan pilihan-pilihan yang dilakukan oleh wanita sendiri, sebagai hasil dari interaksi dan negosiasi antara kepentingan-kepentingan wanita dan kepentingan umum dalam suatu masyarakat.

[1] Perbedaan ini dapat juga diperluas dengan melihat kecenderungan bahwa wanita lebih terlibat dalam bidang konsumtif, sementara laki-laki dalam produktif. Perdedaan bidang ini menunjukkan adanya negosisasi kekuasaan antara laki-laki dan wanita. Proses konsumsi terikat pada kemampuan produksi. Karena laki-laki yang menguasai sektor produksi, maka wanita yang akhirnya berada di bawah kontrol laki-laki.

[2] Janet Saltzman Chafez, “The Gender Division of Labor and The Reproduction of Disatvantage: Toward an Integreted Theory,” dalam Rase Lesser Blumberg (ed), Gender Family and Economy (London : Sage Publications, 1991), hlm.75

[3] Jack Solomon, The Sign of Our Time: The Hidden Messege of Environments, Objects, and Culture Image (Los Angeles: Jeremy P. Tarcher, Inc, 1998), hlm. 194

[4] Lihat Solomon, Ibid, hlm. 195

[5] Enggawati tedjakusuma, “Sekali lagi Wanita Karier,” Jawa Pos, 12 Desember 1990

[6] Peter Berger dan Thomas Luckmann, The Social Contruction of Reality: ATreatise in the Sociology of Knoelage (New York: Penguin Books, 1979).

[7] Berger dan Luckmann. Ibib, hlm. 50

[8] Lihat Rosabeth Moss Kanter, Men and Women of The Corporation (New York: Basic Books, 1997)

[9] Rendall Collins, “Women and Men in the class Stucture,” dalam R.I. Blumberg (ed), Gender, Family and Economy:The Triple Overlape (London: Sage Publication, 1991)

[10] Collins, ibid, hlm. 55

[11] Hal dapat disebut sebagai ideological discount rate yang harus dibayar oleh wanita pada saat ia ingin sejajar dengan laki-laki. Jika seorang wanita ingin memasuki suatu bidang pekerjaan, ia hanya harus memilki kemampuan sama dengan laki-laki tetapi ia juga harus memiliki nilai tamgah yang lain, seperti kecantikan dan penampilan, lihat Oppenheimer, Op. cit.

[12] saya mengikuti Anita van Velzen dalam mendefinisikan marginal dan marginalisasi. Marginalisasi kata velzen, adalah “…a proses by which power relations between womwn and men change in such a way that women are increasingly cut off from having accses to vital resource, wich become monopolised by men,” Anita van Velzev, Who’s the Boss?: Marginalisation and power in Food-Processing Household Enterprises, West Java, Indonesia (Desertasi Doktor, University of Amsterdam, 1994) hlm. 139 Lihat juga , AcEwen Scolt, Women and Industrialisation: Examining the Female Marginalisation Thesis, “The Jounal of Development Studies, Vol. 22 No. 4 untuk study kasus lihat, Mies Grijns et. al. (ed), Gender, Marginalisation and Rural Industries (Bandung: Akatiga Foundation, 1992)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *