Langkanya Aktivis Peduli AIDS di Yogyakarta

Petang ini, sebuah e-mail beredar dari KPA DIY. Kita tidak tahu persis apakah e-mail ini resmi atau hanya inisiatif personal KPA DIY. Tetapi yang hendak kita bahas bukanlah resmi atau tidak resmi status e-mail pendek ini, melainkan isi pesan itu sendiri. KPA DIY, dalam merekruit Sekretaris Pelaksana sebagaimana dimandatkan dalam Surat Keputusan Gubernur yang diterbitkan tahun lalu, ternyata harus diulang kembali dengan Rekruitmen Tahap II. Ada apa sehingga proses ini meski sampai pada tahap II?

Banyak hal bisa dikembangkan berdasarkan situasi ini. Pertama tentu harus mendasarkan fakta yang disajikan oleh pesan pendek dalam e-mail KPA DIY. Banyak yang megirim surat lamaran tetapi tidak lengkap syarat-syaratnya, sehingga KPA DIY harus mengundang mereka kembali untuk bisa mengikuti proses rekruitmen tahap kedua ini.

Kemungkinan lain tentu saja bisa dikembangkan dengan beragam cara pandang atau probabilitas-matematis. Misalnya, mungkin saja, orang-orang yang dipandang mampu dan berkualitas tidak hendak mau melamar, karena merasa tidak akan bisa bergerak bebas. Pasalnya, mereka harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya, sesuai dengan sleuruh mekanisme yang dipersyaratkan dalam sistem keuangan negara. Tentu hal semacam ini bukan soal yang mudah bagi teman-teman ORNOP. Di sisi lain, mereka yang dari pensiunan, mungkin saja enggan melamar, karena tahu benar, berbagai problem yang selama ini berkembang, tidaklah mungkin diselesaikan melalui gaya birokrat, sebagaimana pengalaman mereka selama ini.

Tidak ada yang harus dipercaya dari berbagai kemungkinan itu. Hanya saja, yang pasti, sampai saat ini Sekretarias Pelaksana KPA DIY belum ada, padahal posisi ini sangatlah menentukan terimplementasikannya seleuruh idealisme, gagasan, program dan agenda-agenda strategis KPA DIY di masa mendatang. Saat ini, sebagaimana kita ketahui sudah mencapai angka 501 kasus di Yogyakarta. Tahun-tahun ke depan, tentu akan terus meningkat tajam, manakala strategi gerakan penanggulangan AIDS di Yogyakarta tidak dikembangkan secara sungguh. Sekretaris Pelaksana diharapkan akan kreatif untuk mengembangkan strategi porgram, membangun jaringan yang setara, baik instansi pemerintah mauapun ORNOP.

Kita tunggu saja, sambil berharap, rekruitmen tahap kedua, akan menghasilkan figur yang memenuhi seluruh harapan banyak kalangan. Jika tidak, ternyata provinsi ini memang tidak memiliki orang-orang yang berkualitas untuk mengembangkan program strategis, kecuali hanya selalu berharap pada rumusan orang lain. Tentu akan sangat memprihatinkan jika keadaannya demikian.***

Tinggalkan komentar