Stereotype Gender : Nilai Perempuan Tidak Hanya Dilihat Dari Keperawanannya

Oleh: Vallery Kendira

Di sebagian besar masyarakat umum, “perawan” masih dijadikan patokan bagi seorang perempuan untuk tetap mempertahankannya sebelum akhirnya menikah. Pemahaman tersebut kemudian menimbulkan stigma negatif yang tertanam di diri perempuan yang tidak sejalan dengan norma yang diciptakan oleh masyarakat. Stigma yang berkembang kemudian direproduksi dan dilanggengkan oleh masyarakat yang kemudian menciptakan sebuah ekspektasi – ekspektasi yang ditujukkan bagi perempuan untuk bertindak. Padahal, definisi perawan dan tidak perawan sangatlah beragam. Hal tersebut juga dapat dilihat dari sisi medis, historis, maupun mitos yang akan dibahas pada tulisan di bawah ini.

Arti dan Pengertian Keperawanan: Mitos vs Medis

Apabila ditelisik lebih dalam, arti kata keperawanan berasal dari bahasa yunani dan latin yaitu “virgo” yang memiliki gadis. Kata tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan dewi – dewi yang melambangkan keluarga, kekuatan dan kemandirian. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa dari aspek historis pun arti virgin tidak memiliki arti yang signifikan dengan kondisi selaput dara.

Isu  keperawanan yang kerap disambungkan dengan keadaan selaput dara sudah tidak relevan lagi. Banyak orang yang beranggapan bahwa saat malam pertama, perempuan dinyatakan perawan apabila mengeluarkan darah. Padahal, keperawanan bukanlah masalah anatomi sederhana karena selaput dara sejatinya tidak terlibat dalam keperawanan sama sekali. Seperti  yang kita ketahui pula bahwa di dunia medis, sejatinya dokter tidak diperkenankan untuk menyatakan sebuah “status” keperawanan seseorang.

Dokter hanya diperbolehkan untuk  memeriksa hymen, yaitu jaringan kulit sangat tipis yang melapisi bukaan vagina perempuan, dan kemudiann mendeskripsikan bentuknya, tanpa mengasosiasikan dengan keperawanan. Hal tersebut tentulah berhubungan dengan bermacam – macam keadaan selaput dara yang dimiliki setiap perempuan ; ada yang elastis, tebal dan didapati bahwa tidak semua perempuan lahir memiliki selaput dara. Kondisi selaput dara setiap perempuan juga berbeda- beda dan lagi – lagi darah yang keluar ketika berhubungan seksual tidak dapat dijadikan parameter keperawanan seseorang.

Tes Keperawanan di Indonesia: Apa Manfaatnya?

Di Indonesia sendiri, pengujian selaput dara atau tes keperawanan sempat dijadikan salah satu syarat untuk mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Wanita Angakatan Darat (Kowad) di TNI AD. Keutuhan hymen menjadi tolak ukur keperawanan tersebut. Padahal, tingkat akurarasi tes keperawanan masih dipertanyakan. Pemeriksaan alat kelamin perempuan yang bermaksud untuk menentukan apakah sudah pernah melakukan hubungan seksual melalui vagina, nyatanya tidak memiliki manfaat ilmiah, hal tersebut pastinya dikarenakan selaput dara bukanlah indikasi yang dapat digunakan untuk melihat riwayat hubungan seksual. Terlepas dari itu, keperawanan dan tindakan seksual merupakan privasi setiap manusia, di mana bahwasannya seks merupakan bagian dari kehidupan yang wajar karena termasuk dalam ciri setiap manusia sebagai makhluk yang memiliki hasrat.

Di awal tahun 2021, kabar baik mengenai diskriminasi tes keperawanan ini akhirnya hadir dengan dihapuskannya tes keperawanan atau tes selaput dara. Tentunya hal tersebut merupakan secercah cahaya perubahan bagi Indonesia dalam menciptakan tatanan sosial yang lebih setara antara laki – laki dan perempuan. Setidaknya dengan dihapuskannya tes ini, diskriminasi gender yang tidak relevan dengan aspek kesehatan dan integritas bagi calon TNI berkurang.

Kebijakan dihapuskannya tes keperawanan di Indonesia dapat dikatakan merupakan upaya pembangunan yang dilaksanakan dengan berpedoman kepada gender mainstreaming dapat diimplementasikan dengan menggunakan pendekatan feminisme. Feminisme merupakan ideologi yang berkeyakinan pada suatu kondisi ideal yang di dalamnya laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpatisipasi dalam keterlibatannya di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya.  Sehingga dalam hal ini, ideologi atau cara pandang feminis dianggap sebagai upaya mengurangi dan menghilangkan kesenjangan gender yang berimplikasi terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi suatu negara.

Stereotype Gender: Sudut Pandang Keperawanan

Pandangan dan anggapan mengenai keperawanan sejatinya disebabkan oleh  beberapa hal. Pertama ialah kesetaraan gender yang timpang antara laki – laki dan perempuan. Tidak hanya itu, budaya patriarki juga turut berperan dalam membentuk nilai – nilai misoginis dan stereotip gender. Nilai – nilai moral yang digadang – gadangkan mengenai nilai kesucian dan keperawanan memiliki nilai yang signifikan terhadap kehidupan perempuan. Banyak orang merasa bahwa keperawanan merupakan norma sempurna yang dipatuhi oleh setiap perempuan.

Selain itu, sudut pandang budaya juga membawa pengaruh pada cara pandang yang menyatakan bahwa berhubungan seksual adalah sesuatu yang sakral dan hanya dilakukan dengan pasangan dalam ikatan pernikahan. Untuk menghapus stigma miring tentang perempuan tersebut perlu diperjuangkan perubahan hukum dan pandangan, serta mereformasi keadaan sosial yang ada agar membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi perempuan. Nilai dari seorang perempuan tidak dapat dilihat dari keperawanannya saja. Namun, terdapat hal yang lebih besar yang perempuan miliki untuk kemudian diakui dan dihargai, sebagai sebuah pencapaian yang jarang diapresiasi. 

Oleh karenanya, ideologi feminisme hadir sebagai cara atau sudut pandang baru dalam melihat suatu fenomena sosial yang lebih utuh dan inklusif. Nilai-nilai kesetaraan yang dibawa oleh feminisme dianggap juga sebagai jalan tengah bagimana akhirnya nanti negara dapat melakukan pembangunan serta menciptakan kebijakan yang menjadi lebih inklusif dan beradab demi kesejahteraan warga negaranya. (vel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *