Blog

Pekerjaan Sosial v.s Komersial

“Buat bussiness plan
saja,” ujar Imam Prakoso, salah seorang
praktisi media yang turut urun rembug
menggagas konsep pengembangan Media Centre dalam “Workshop Ahli Media
Centre PKBI DIY”, Sabtu, 5 April 2008 lalu. Setidaknya, menurut Imam Prakoso,
pengalaman PKBI dalam bidang pengembangan media sudah cukup memadai. “Pekerjaan
saat ini, menyusun rencana bisnisnya, sehingga pengembangannya menjadi
terarah,” lanjutnya.

Langkanya Aktivis Peduli AIDS di Yogyakarta

Petang ini, sebuah e-mail beredar dari KPA DIY. Kita tidak tahu persis apakah e-mail ini resmi atau hanya inisiatif personal KPA DIY. Tetapi yang hendak kita bahas bukanlah resmi atau tidak resmi status e-mail pendek ini, melainkan isi pesan itu sendiri. KPA DIY, dalam merekruit Sekretaris Pelaksana sebagaimana dimandatkan dalam Surat Keputusan Gubernur yang diterbitkan tahun lalu, ternyata harus diulang kembali dengan Rekruitmen Tahap II. Ada apa sehingga proses ini meski sampai pada tahap II?

Menjinakkan Kapitalisme untuk Gerakan Sosial

Sudah sejak lama, gerakan sosial di Indonesia mencoba mengembangkan sayap bisnis dengan harapan bisa menjamin keberlangsungan gerakan sosial dan tidak tergantung dengan lembaga-lembaga donor secara total. Akan tetapi fakta juga membuktikan, upaya ini lebih banyak yang hancur ketimbang yang bisa berkembang. Untuk yang berkembang, pada akhirnya juga menemui ajalnya atau setidak-tidaknya perpecahan yang tajam, karena nalar kapitalisme dalam sayap bisnis yang dikembangkan oleh ORNOP, ternyata tidak hendak tunduk ke dalam nalar gerakan sosial. Demikian, antara lain, gagasan yang berkembang dalam ‘Workshop Ahli Pengembangan Media Center PKBI DIY”, pada 5 April 2008, di Kantor PKBI Badaran, Yogyakarta.

Menyatukan Gerakan, Memandang HIV/AIDS dari Sudut Pandang Berbeda

Upaya membangun koneksitas antara gerakan HIV dan AIDS, gerakan perempuan dan gerakan HAM mulai menguat. Setidaknya, di Yogyakarta pada awal bulan Maret telah dilakukan diskusi panel untuk mengembangkan koneksitas ini, yang didukung oleh PBHI, PLIP Mitra Wacana, IHAP dan PKBI DIY. Sedang pada akhir bulan Maret, sebuah pelatihan dengan tajuk “Merespons epidemis HIV dan AIDS dengan perspektif gender, digelar pula. Kali ini dilakukan oleh Center for Health Policy and Social Change (CHPPS) yang melibatkan para pengambil kebijakan, baik di lembaga pemerintahan, LSM dan media massa. Sebegitu pentingkah koneksitas ini?

Komunitas Adalah Aktor Utama Advokasi

Media mainstream dipandang tidak cukup memadai untuk menyampaikan suara dan kepentingan komunitas. Tidak saja karena keterbatasan ruang yang tersedia, tetapi cara pandang pelaku media terhadap komunitas seringkali justru menjadi citra lebih buruk yang ditimbulkannya. Video komunitas kemudian menjadi salah satu alternatif yang diharapkan bisa menyuarakan kepentingan komunitas, selain untuk memposisikan komunitas sebagai aktor perubahan sosial.

Kita Semua Berharap KPAD DIY Lebih Progress

Akhirnya, semua aktivis peduli HIV dan AIDS, serta komunitas ODHA dan OHIDA lega. Gubernur DIY telah mengeluarkan surat keputusan KPAD yang baru. Ada semangat pembaharuan yang luar biasa, yang tampak dari struktur dan komposisi KPAD baru ini.  Walaupun demikian,  harapan itu bisa saja musnah tak berbekas, manakala orang-orang yang dipercaya di dalamnya, tidak mampu mengaktualisasikan semangat dan progresivitas di dalamnya.

Paradoks Revolusi Kebudayaan Muhammad SAW

Mandat Muhammad SAW, selain untuk meluruskan cara pandang mengenai
ketuhanan dan ritual-ritual peribadatan, sesungguhnya bisa dimaknai membawa
misi perubahan kebudayaan. Apa yang diperankannya, tidak semata-mata melakukan
akulturasi kebudayaan, penyesuaian dengan tradisi-tradisi yang sudah
terpraktikan di masa hidupnya. Melainkan juga melakukan gerakan kebudayaan, dengan
melakukan perlawanan terhadap ideologi dominan yang sudah terpraktikkan dan menggantinya
dengan ideologi baru.